
“Karena kami, orang-orang yang dipaksa berusaha lebih”
Bagi kalian, yang ingin masuk menjadi mahasiswa kedokteran, maka perhatikanlah.
Bagi kalian, yang memiliki keluarga berupa mahasiswa kedokteran, maka simaklah.
Bagi kalian, yang memiliki sahabat dan teman mahasiswa kedokteran, naka pahamilah.
Kami orang-orang yang dituntut untuk rajin lebih dari yang lain.
Belajar atas ilmu yang bisa menyelamatkan manusia, bukanlah perkara mudah. Bukan perkara sedikit.
Menyangkut urusan orang lain. Urusan yang tak ada hubungannya dengan urusan kami.
Taruhan kedepan kami adalah nyawa, adalah seorang bapak bagi anaknya, seorang suami bagi istrinya.
Ketika kami tak mau ditendang untuk rajin belajar sekarang, harus bisa menjawab dikemanakan nyawa tersebut nanti. Harus mau yang disalahkan atas bodohnya ilmu kami.Kami orang-orang yang berlatih tak istirahat.
Mainan kami kedepan adalah takdir, walaupun tak ada yang bisa mengatur selainNya, kami menjadi orang yang bersentuhan langsung dengannya, atas apa yang kami lakukan, kami bersinggungan atas hidup-mati nya seseorang.
Atas apa yang telah Allah berikan kepada kami, kami bertanggung-jawab mempertahankan ruh tak berpisah dengan jasadnya, agar manusia dapat bertahan menatap kehidupannya, mempersiapkan pertemuan denganNya sebaik-baiknya nantinya. Jika kami tak bisa? Maka salahkan belajar kami yang sedikit, istirahat kami yang masih terlalu lama.
Akan kebiasaan yang biasa tak tertidur, sudah biasa tak beristirahat, kami harus belajar itu dari sekarang.Kami orang-orang yang tak diberikan pilihan untuk memilih keegoisan.
Kami akan dihadapkan dengan sesuatu yang bukan menjadi pilihan, melainkan keharusan.
Tak peduli apapun urusan sendiri, atas dasar prinsip kemanusiaan, kami harus rela mengabaikan ego pribadi, apapun itu.
Sesuatu kegiatan pribadi, harus mau dikorbankan atas telefon operasi penyelamatan nyawa di IGD. Suatu rencana pribadi, harus mau ditimpa dengan panggilan Rumah Sakit, apapun konsekuensinya.Kami orang-orang yang kedepan tak boleh memikirkan hidup sendiri.
Kami diajari bagaimana mengabdi. Memberikan hidup kami demi orang lain. Bagaimana berkorban, membantu, serta menolong mereka yang membutuhkan.Terimakasih.
Kami bahagia disini, memilih jalan ini. Semoga Allah kuatkan kami.
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)
(via dshofiyyah)
Rahasia salat. Mungkin bagi yang masih galau, ada baiknya salatnya diperbaiki.
(Source: facebook.com, via dshofiyyah)

Negara yang terbaik sistem pendidikannya bukanlah negara yang banyak penduduknya seperti Tiongkok, bukan pula negara adidaya seperti Amerika Serikat, bukan juga negara yang maju teknologinya seperti Jerman atau Jepang. Negara yang terbaik sistem pendidikannya adalah negara yang penduduknya membaca. Pengetahuan mereka tidak sekedar tertinggal dalam tumpukan buku-buku di perpustakaan, tetapi menyebar dari satu orang ke orang lainnya, itulah sejati-jatinya pendidikan.
(via kurniawangunadi)
Dylan Thomas
Everything you love is here
(via lovequotesrus)
(Source: kitty-en-classe, via lovequotesrus)
Our parents miss and need us, more than we ever realize. There’s nothing and no one can replace our presence. And maybe, when we all die, the one that they will remember the most is the person (or the thing, in this case) who was being with them until the end.
Be there for them, as much as you can. We’ll never know if we’d get a chance to say goodbye to them when they’re still alive, or not.
Ketika seseorang memilih untuk menginjakkan kaki di dunia kesehatan, maka dia telah menyerahkan sebagian besar hidupnya kepada masyarakat. Hanya sebagian kecil darinya yang dia ditinggalkan untuk keluarga, bahkan untuk dirinya sendiri.
Waktunya akan lebih banyak dihabiskan untuk…
“Tahu, mengapa kita tak boleh terlalu senang berlebihan saat dikaruniai kenikmatan?
Agar kita menjaga yang lain untuk tetap bersyukur..
Karena, tak semestinya kita menjadi perantara orang untuk kufur nikmat..Yang hamil, menjaga perasaan orang yang belum
